Halo Sobatlab!
Cleanroom dirancang untuk menjaga partikel udara, tekanan, suhu, dan kelembapan tetap terkendali. Pengendalian ini penting untuk melindungi produk sensitif dari risiko kontaminasi, seperti komponen elektronik, alat kesehatan, dan obat steril.
Karena itu, membangun cleanroom tidak bisa disamakan dengan membangun ruang produksi biasa. Setiap detail perlu dipikirkan sejak awal. Desain harus selaras dengan kebutuhan proses, material harus mudah dibersihkan dan tidak menghasilkan partikel, dan sistem udara harus mampu menjaga kestabilan lingkungan setiap saat.
Dalam artikel ini, kami akan membahas panduan desain dan konstruksi cleanroom yang sesuai standar industri. Mulai dari mengidentifikasi kebutuhan spesifik, memahami prinsip desain, merancang layout dan zoning, menentukan sistem airflow dan HVAC, memilih material konstruksi yang disetujui, hingga proses kualifikasi sebelum cleanroom beroperasi.
Namun sebelum kita masuk lebih jauh ke detail teknis konstruksi, pastikan Anda sudah memahami pengertian dasar cleanroom. Anda dapat membaca artikel “Apa itu Cleanroom? Berikut adalah penjelasan fungsi hingga Pemeliharaan rutinnya”.
Menentukan Kebutuhan Cleanroom
Penentuan cleanroom harus dimulai dari kebutuhan proses, bukan dari kelas ISO. Pahami dulu produk, risiko kontaminasi, jumlah operator, dan peralatan di dalamnya agar desain tidak berlebihan atau justru kurang memadai.
Standar yang digunakan juga perlu dibedakan sejak awal. ISO 14644 berfokus pada batas partikel di udara. Sementara itu, EU GMP atau CPOB menambahkan kontrol mikrobiologi serta persyaratan operasional yang lebih ketat, terutama untuk industri farmasi dan produk steril.
Semua kebutuhan tersebut harus dirangkum dalam dokumen User Requirement Specification (URS) yang jelas dan terukur agar desain tepat guna serta efisien secara biaya.
Memahami Prinsip Desain Konstruksi Cleanroom
Setelah kebutuhan ditetapkan, desain cleanroom harus mampu mengendalikan kontaminasi secara konsisten. Yaitu, sistem tidak hanya “bersih saat diuji”, tetapi tetap stabil saat ruangan digunakan. Secara umum, desain cleanroom bertumpu pada tiga prinsip utama: mencegah kontaminan masuk, membuang yang sudah ada, dan meminimalkan sumber kontaminasi baru.
1. Mencegah Masuknya Kontaminan
Cleanroom dirancang terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Dinding, plafon, dan lantai harus kedap, termasuk setiap penetrasi kabel atau pipa. Udara luar difilter bertahap melalui pre-filter sebelum mencapai HEPA atau ULPA, agar efisien dan memperpanjang umur filter utama. Selain itu, tekanan positif dijaga agar udara selalu mengalir keluar saat ada celah kecil, bukan sebaliknya.
2. Menghilangkan Kontaminan di Dalam Ruang
Partikel tetap akan muncul, terutama dari aktivitas manusia. Karena itu, sistem HVAC harus mampu membersihkannya dengan cepat. Pada ISO 6–9, digunakan aliran turbulen dengan prinsip dilusi dan pengaturan Air Changes per Hour (ACPH). Untuk ISO 1–5, digunakan aliran searah (unidirectional/laminar) yang mendorong partikel langsung keluar tanpa sempat berputar di area kerja.
3. Meminimalkan Pembentukan Kontaminan Baru (Generation Control)
Material harus tidak mudah melepaskan partikel dan tahan bahan kimia. Desain juga perlu menghindari area “dead zone” tempat debu menumpuk, misalnya dengan sudut melengkung dan furnitur berdesain terbuka. Karena manusia adalah sumber kontaminasi terbesar, tata letak ruang gowning, airlock, dan jalur masuk harus dibuat logis agar perilaku operasional tetap disiplin.
Dengan memegang ketiga prinsip ini, kita bisa mulai menggambar peta ruangan atau layout yang logis untuk mengatur pergerakan di dalamnya.
Mengatur Layout dan Zoning
Layout cleanroom menentukan bagaimana personel bergerak, bagaimana material berpindah, dan bagaimana udara mengalir di dalam fasilitas. Jika sejak awal tata letaknya kurang tepat, risiko kontaminasi silang akan terus muncul dan sulit diselesaikan hanya dengan prosedur kerja.
Secara umum, desain cleanroom mengikuti konsep “kulit bawang”. Area dengan tingkat kebersihan paling tinggi ditempatkan di bagian terdalam, lalu dikelilingi zona dengan kelas kebersihan yang menurun secara bertahap.
Sebagai Gambaran:
- Core (Inti) – ISO 5 / Grade A
Area proses paling kritis, dengan tekanan paling tinggi dan akses sangat terbatas. - Buffer 1 – ISO 7 / Grade B
Berfungsi sebagai latar belakang untuk mendukung area inti. - Buffer 2 – ISO 8 / Grade C/D
Digunakan untuk sirkulasi dan persiapan material sebelum masuk ke zona lebih bersih. - Support Zone – Unclassified / CNC
Area pendukung seperti ruang teknis atau utilitas, berada di bagian terluar.
Dengan susunan bertingkat ini, risiko kontaminasi tidak langsung mencapai area inti, melainkan tertahan secara bertahap di setiap lapisan zona.
Penghubung Antar Zona
Karena tiap zona memiliki tingkat kebersihan berbeda, perpindahan antar ruang tidak boleh dilakukan secara langsung, diperlukan sistem Airlocks sebagai ruang transisi. Terdapat 2 jenis utama yang bisa digunakan, yaitu:
Personnel Airlock (PAL):
Digunakan untuk pergantian pakaian steril secara bertahap. Sistem interlock pada pintu memastikan tidak ada dua pintu terbuka bersamaan sehingga tekanan tetap terjaga.
Material Airlock (MAL):
Jalur khusus untuk transfer barang. Biasanya dilengkapi pass box atau sistem tambahan untuk mengurangi partikel yang terbawa material.
Stabilitas Zona dan Tekanan Udara
Airlock menjaga batas fisik antar zona. Namun itu saja belum cukup. Agar sistem benar-benar stabil, setiap zona juga harus dijaga melalui pengaturan tekanan udara.
Secara umum, ada tiga skema pengaturan tekanan yang sering digunakan dalam desain cleanroom:
1. Cascade
Skema tekanan bertingkat, di mana area paling bersih memiliki tekanan tertinggi lalu menurun ke zona di luarnya (misalnya ISO 5 → ISO 7 → ISO 8 → unclassified).
Digunakan untuk mencegah kontaminasi silang antar zona dan menjadi skema paling umum karena stabil serta mudah dikontrol. Udara selalu mengalir dari inti ke luar.
2. bubble
Satu ruangan dibuat bertekanan paling tinggi dibanding sekitarnya, seperti berada di dalam “gelembung” udara bersih.
Cocok untuk melindungi proses sangat kritis agar tidak terpengaruh lingkungan luar, karena udara akan terus terdorong keluar dari ruangan tersebut.
3. sink
Satu ruangan dibuat bertekanan lebih rendah (negatif) dibanding area sekitarnya.
Digunakan untuk menahan bahan atau proses berisiko tinggi agar tidak menyebar keluar, karena udara dari luar justru mengalir masuk ke ruangan ini.
Dalam praktiknya, selisih tekanan 10–15 Pascal biasanya sudah cukup untuk menjaga arah aliran udara tetap stabil tanpa mengganggu kenyamanan operasional.
Merancang Sistem Airflow dan HVAC
Pada cleanroom, HVAC mengendalikan jumlah partikel, menjaga suhu dan kelembapan tetap stabil, serta mempertahankan tekanan antar zona. Jika desain HVAC keliru, maka layout dan zoning yang sudah presisi tidak akan bekerja optimal.
Desain airflow selalu dimulai dari satu pertanyaan mendasar: berapa banyak udara yang harus digerakkan untuk menjaga kelas kebersihan tetap stabil, bahkan saat proses sedang berjalan?
Perhitungan Air Change Rate
Parameter utama dalam desain airflow adalah Air Changes per Hour (ACPH), yaitu berapa kali seluruh volume udara ruangan diganti dalam satu jam.
Jika kantor biasa hanya membutuhkan 2–4 kali pergantian udara per jam, cleanroom bekerja pada skala yang jauh lebih besar. Udara tidak hanya berfungsi sebagai ventilasi, tetapi sebagai media untuk mengencerkan dan membuang partikel secara terus-menerus.
Sebagai acuan umum:
- ISO 5 (Grade A/B): 240–600 ACPH
Menggunakan aliran udara searah (unidirectional/laminar) dengan kecepatan rata-rata sekitar 0,36–0,54 m/s. - ISO 6: 90–180 ACPH
Menggunakan pola aliran campuran (mixed flow) untuk menjaga kontrol partikel yang lebih ketat dibanding ISO 7. - ISO 7 (Grade C): 30–60 ACPH
Menggunakan aliran turbulen dengan sistem pengenceran partikel secara kontinu, umum pada manufaktur alat kesehatan dan area penyangga farmasi. - ISO 8 (Grade D): 10–25 ACPH
Menggunakan aliran turbulen dengan kebutuhan pergantian udara lebih rendah, umumnya untuk area persiapan atau background.
Namun angka tersebut bukan nilai mutlak. Kebutuhan aktual sangat dipengaruhi oleh beban partikel dari manusia dan mesin, serta beban panas dari peralatan dan proses produksi. Dalam praktiknya, sebuah ruang ISO 7 dengan mesin berdaya tinggi bisa membutuhkan pertukaran udara jauh di atas standar minimum hanya untuk menjaga suhu tetap stabil. Karena itu, desain airflow harus menyeimbangkan kebutuhan kebersihan dan kebutuhan pendinginan secara bersamaan agar keduanya tercapai tanpa saling mengorbankan.
Arsitektur Sistem
Setelah tahu berapa banyak udara yang harus digerakkan, langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana udara itu dialirkan ke dalam cleanroom. Secara umum, ada dua pilihan utama, yaitu sistem FFU dan sistem centralized AHU.
Fan Filter Unit (FFU) System
Sistem ini memakai unit kecil berisi kipas dan filter HEPA yang dipasang langsung di plafon. Setiap unit bekerja sendiri-sendiri. Udara dari ruang atas plafon (plenum) ditarik oleh FFU, lalu didorong kembali ke ruangan melalui filter HEPA. Untuk mengatur suhu, biasanya digunakan dry cooling coil (DCC) di area plenum atau unit terpisah seperti Make-up Air Unit (MAU) untuk udara segar.
Kelebihannya ada pada fleksibilitas. Jika ingin meningkatkan kelas ISO, cukup menambah jumlah unit. Karena tiap FFU berdiri sendiri, jika satu unit bermasalah, yang lain tetap berjalan. Dengan motor tipe EC/DC, konsumsi energi juga bisa lebih efisien. Sistem ini banyak dipakai di industri semikonduktor dengan konsep ballroom dan pada cleanroom modular yang butuh kemudahan ekspansi.
Centralized AHU (Ducted System)
Pendekatan ini menggunakan satu atau beberapa unit AHU besar yang menangani pendinginan dan penyaringan udara secara terpusat. Udara kemudian disalurkan lewat jaringan ducting menuju filter HEPA di dalam ruangan.
Keunggulannya, perawatan lebih mudah karena komponen utama berada di luar area bersih. Pengendalian kebisingan juga lebih sederhana. Sistem ini cocok untuk kebutuhan khusus seperti tekanan negatif atau pembuangan udara terpusat, misalnya pada fasilitas BSL-3. Namun, dibutuhkan ruang mekanikal dan jalur ducting yang cukup besar, lebih sulit diubah jika layout berubah, dan kipas bisa bekerja lebih berat karena panjangnya jalur distribusi udara.
Teknologi Filtrasi
Selain menghitung volume udara dan sistem distribusinya, udara yang masuk juga harus dipastikan benar2 bersih menggunakan filterasi, terdapat 2 filter yang umum digunakan, yaitu hepa dan ulpa
HEPA (High Efficiency Particulate Air)
Filter HEPA tipe H13 dan H14 merupakan standar utama pada industri farmasi dan sebagian besar manufaktur presisi. H13 memiliki efisiensi 99,95%, sedangkan H14 mencapai 99,995% pada MPPS (Most Penetrating Particle Size), yaitu ukuran partikel yang paling sulit ditangkap. Mekanisme penangkapannya bukan seperti saringan biasa, melainkan melalui kombinasi difusi, intersepsi, dan impaksi inersia, sehingga partikel mikroskopis dapat terjebak di dalam media filter.
ULPA (Ultra Low Penetration Air)
Untuk kebutuhan yang lebih tinggi, digunakan filter ULPA tipe U15 hingga U17 dengan efisiensi hingga 99,999999%. Filter ini umum pada industri semikonduktor canggih, di mana partikel berukuran 0,1 mikron saja dapat mengganggu atau merusak struktur transistor.
Namun dalam praktiknya, kegagalan sistem filtrasi jarang terjadi pada media filter itu sendiri. Titik lemah paling sering justru ada pada bagian seal. Jika pemasangan tidak benar-benar kedap, udara dapat bocor melalui celah kecil di sekeliling filter dan melewati proses penyaringan.
Karena itu, banyak cleanroom modern menggunakan sistem gel seal. Pada metode ini, housing dengan desain knife edge ditanam ke dalam lapisan gel kental sehingga terbentuk segel yang rapat dan tahan getaran. Dibanding gasket neoprene konvensional, sistem ini jauh lebih andal, terutama pada fasilitas dengan tekanan diferensial tinggi.
Memilih Material Konstruksi Cleanroom yang Sesuai (Approved Materials)
Material cleanroom harus kuat secara struktur, tahan bahan kimia, tidak berpori, tidak menghasilkan partikel, dan minim outgassing. Permukaannya wajib halus serta mampu menahan pembersihan rutin maupun disinfektan agresif tanpa degradasi.
Dinding Cleanroom
Dinding bata dengan cat epoxy konvensional sudah tidak direkomendasikan karena risiko retak rambut yang dapat menjadi titik akumulasi kontaminasi. Fasilitas modern menggunakan sistem panel modular sandwich yang lebih stabil dan presisi.
Berikut adalah jenis inti panel yang umum digunakan:
1. Rockwool / Mineral Wool
terbuat dari serat batuan vulkanik. Material ini unggul dalam ketahanan api (fire rating bisa 1–2 jam) sehingga wajib untuk dinding perimeter atau pemisah zona kebakaran. Isolasi suaranya juga baik. Namun rockwool bersifat berat dan higroskopis. Jika panel rusak atau lapisan luarnya bocor, serat dapat terlepas dan menjadi sumber partikel. Tidak ideal untuk area dengan paparan air intensif.
2. Aluminum Honeycomb
memiliki struktur sarang lebah dari aluminium foil. Material ini sangat ringan, kaku secara struktural, tidak mudah terbakar, dan tidak menghasilkan partikel (non-shedding). Karena itu banyak digunakan di industri semikonduktor. Kekurangannya terletak pada isolasi termal yang rendah dan biaya yang relatif lebih tinggi.
3. Polyurethane (PU) / PIR
berupa busa polimer injeksi dengan kemampuan isolasi termal terbaik di antara ketiganya. Cocok untuk cleanroom dengan kontrol suhu ketat atau fungsi cold room. Material ini juga ringan. Namun ketahanan apinya lebih rendah dibanding rockwool, meskipun PIR modern sudah dilengkapi sifat fire-retardant.
Untuk lapisan permukaan (skin), umumnya digunakan baja galvanis dengan coating polyester atau PVDF antibakteri. Pada area dengan pencucian berat atau paparan bahan kimia korosif, seperti formulasi asam, digunakan stainless steel 304/316 atau HPL (High Pressure Laminate) yang lebih tahan terhadap disinfektan sporicidal agresif dan goresan mekanis.
Lantai Cleanroom
Lantai cleanroom harus monolitik, tidak berpori, dan mudah dibersihkan. Permukaannya tidak boleh menjadi sumber debu, retak, atau celah yang bisa menyimpan kontaminan.
Berikut adalah jenis lantai yang umum digunakan:
1. Epoxy Self-Leveling
sambungan. Tahan terhadap beban berat seperti forklift dan memiliki ketahanan kimia yang sangat baik. Kekurangannya, proses instalasi membutuhkan waktu curing beberapa hari, dan jika terjadi retak, perbaikannya tidak selalu bisa kembali sempurna.
2. Vinyl Sheet (PVC)
Diproduksi dalam lembaran besar dengan sambungan yang dilas panas (hot weld) menggunakan rod PVC sehingga tetap rapat. Instalasinya lebih cepat, lebih nyaman diinjak karena sedikit fleksibel, dan relatif mudah diperbaiki dengan metode potong–tambal. Tersedia varian anti-statis (ESD) untuk industri elektronik. Namun daya tahannya terhadap beban tusuk atau pelarut keras tertentu lebih rendah dibanding epoxy.
3. Raised Floor (Lantai Panggung)
Digunakan pada industri semikonduktor tingkat tinggi. Panel aluminium die-cast berlubang memungkinkan udara mengalir vertikal ke plenum bawah, sehingga membantu menjaga pola aliran laminar tetap stabil sekaligus memisahkan jalur utilitas di bawah lantai.
Plafon Cleanroom
Plafon cleanroom sering dirancang walkable agar teknisi dapat melakukan perawatan lampu, kabel, atau filter dari atas tanpa masuk ke ruang steril.
Untuk itu digunakan panel sandwich tebal ±50 mm atau grid aluminium heavy-duty dengan hanger rapat. Struktur harus cukup kuat menopang beban teknisi sekaligus menjaga presisi pemasangan FFU, lampu, dan terminal HEPA.
Permukaan plafon wajib rapat, tidak berpori, dan mudah dibersihkan agar tidak terjadi kebocoran udara atau akumulasi partikel.
Melaksanakan Tahap Konstruksi dan Instalasi
Konstruksi cleanroom bukanlah pekerjaan sipil biasa; ini adalah proses perakitan presisi. Protokol “Build Clean” harus diterapkan: tingkat kebersihan lokasi konstruksi harus meningkat seiring berjalannya proyek.
1. Persiapan Site dan Leveling Lantai
Langkah awal yang paling penting adalah memastikan lantai dasar (sub-floor) benar-benar rata. Ketidakrataan milimeter saja akan terakumulasi saat panel dinding dipasang, menyebabkan celah pada sambungan plafon yang sulit di-seal. Biasanya diaplikasikan self-leveling screed sebelum pemasangan floor track panel dinding untuk memastikan presisi.
2. Instalasi Dinding Modular dan Sistem Sambungan
Panel dinding dipasang pada rel aluminium (track) di lantai. Sambungan antar panel (joints) adalah titik lemah potensial kebocoran.
Metode Sambungannya adalahPanel modern menggunakan sistem interlocking (lidah dan alur) atau profil aluminium ‘H’ yang disembunyikan. Celah mikroskopis antar panel kemudian diisi dengan silicone sealant kelas cleanroom (anti-jamur, non-outgassing) untuk menciptakan permukaan yang flush (rata).
Untuk menjaga interior tetap bersih, kabel dan pipa biasanya sudah ditanam di dalam panel saat fabrikasi (built-in conduits) atau ditempatkan di balik dinding ganda/return air riser agar tidak terekspos di dalam ruang.
3. Pemasangan Plafon dan Grid
Grid plafon dipasang menggunakan pengukuran presisi (umumnya laser level) karena berfungsi sebagai dudukan FFU, lampu, dan blind panel.
Setiap titik pertemuan grid harus rapat. Gasket gel atau segel busa closed-cell dipasang pada dudukan filter untuk mencegah kebocoran udara.
Pada pertemuan dinding dan plafon, digunakan sistem suspensi yang memungkinkan sedikit pergerakan struktur bangunan tanpa merusak segel hermetik.
4. Pemasangan Coving dan Finishing Sudut
Sudut 90 derajat sulit dibersihkan dan berpotensi menjadi titik akumulasi kontaminasi. Karena itu, semua pertemuan sudut (lantai–dinding, dinding–dinding, dinding–plafon) dipasang coving dengan radius 50–100 mm.
Coving biasanya terdiri dari rel dasar yang disekrup dan cover melengkung yang dipasang di atasnya. Seluruh tepi kemudian diseal silikon agar benar-benar kedap air dan mudah dibersihkan.
5. Pintu dan Jendela (Cleanroom Glazing)
View panel menggunakan kaca ganda (double-glazed) dan dipasang flush di kedua sisi dinding. Bagian dalamnya sering diisi gas inert atau desiccant untuk mencegah kondensasi.
Lalu, pintu cleanroom harus dilengkapi drop seal otomatis di bagian bawah yang menutup celah lantai saat pintu tertutup. Sistem ini menghilangkan kebutuhan ambang (threshold), sehingga sirkulasi troli tetap lancar tanpa mengorbankan kontrol tekanan.
Integrasi Sistem Pendukung
Infrastruktur pendukung harus dirancang untuk meminimalkan gangguan terhadap kualitas cleanroom.
Sistem Pencahayaan
Di cleanroom, pencahayaan harus cukup terang agar partikel halus dan cacat kecil bisa terlihat jelas selama proses kerja. Karena itu, intensitasnya lebih tinggi dari ruang biasa. Area operasional umum biasanya berada di kisaran 800–1.000 Lux, sementara area inspeksi presisi bisa mencapai 1.500–2.000 Lux.
Lampu dipasang rata (flush) dengan plafon untuk menjaga permukaan tetap bersih dan tidak mengganggu aliran udara. Pada fasilitas farmasi yang sering dibersihkan, armatur minimal berstandar IP65 agar tahan air dan bahan kimia. Di zona aliran laminar ISO 5, bentuknya dibuat halus agar tidak memicu turbulensi.
Pada fasilitas fotolitografi semikonduktor, digunakan lampu kuning (amber, cutoff <500 nm) untuk melindungi material fotoresist yang sensitif terhadap cahaya biru dan UV.
Utilitas Proses dan Perpipaan
Utilitas seperti WFI, pure steam, dan compressed air menjadi bagian penting dalam operasi farmasi dan biotek. Sistemnya harus higienis dan mengikuti standar seperti ASME BPE agar tidak ada celah yang bisa memicu kontaminasi.
Material yang umum digunakan adalah Stainless Steel 316L dengan sulfur rendah karena lebih stabil saat dilas dan tahan korosi. Penyambungan pipa dilakukan menggunakan orbital TIG welding otomatis untuk menghasilkan permukaan dalam yang halus dan konsisten, sehingga tidak ada ruang bagi biofilm untuk berkembang.
Setelah instalasi selesai, sistem dipasivasi dengan larutan asam untuk membentuk lapisan pelindung sekaligus menjaga kemurnian fluida yang mengalir di dalamnya.
Kelistrikan dan Konektivitas
Stopkontak dan sakelar di cleanroom harus memiliki rating IP54–IP66 agar tahan debu, air, dan bahan kimia pembersih.
Setiap penetrasi kabel wajib diseal dengan firestop dan silikon untuk mencegah kebocoran udara dan menjaga tekanan ruang tetap stabil.
Pada fasilitas modern, port data dan sensor Environmental Monitoring System perlu direncanakan sejak awal, dengan jalur kabel tertanam rapi di dalam panel agar tidak ada instalasi terbuka yang berpotensi menghasilkan partikel.
Kualifikasi dan Validasi Cleanroom
Hal terakhir adalah kualifikasi dan validasi. Sebuah cleanroom belum bisa dinyatakan siap digunakan sebelum melalui proses kualifikasi dan validasi. Tahapan ini memastikan fasilitas yang dibangun benar-benar sesuai dengan desain dan kebutuhan operasional, mengikuti pendekatan sistematis seperti V-Model.
Tahapan Kualifikasi (IQ, OQ, PQ)
Installation Qualification (IQ) memastikan seluruh komponen terpasang sesuai spesifikasi desain. Tahap ini mencakup verifikasi material konstruksi, kualitas pengelasan, kemiringan pipa untuk drainase, sertifikat filter HEPA, serta validitas kalibrasi instrumen seperti sensor tekanan dan suhu.
Operational Qualification (OQ) menguji apakah sistem bekerja dengan benar dalam kondisi at-rest, yaitu tanpa aktivitas produksi dan tanpa operator. Pada tahap ini diverifikasi parameter HVAC seperti suhu, kelembapan, kecepatan udara, air change per hour, tekanan antar ruang, termasuk fungsi interlock pintu dan respons sistem saat terjadi pemadaman listrik.
Performance Qualification (PQ) membuktikan bahwa cleanroom tetap memenuhi spesifikasi saat digunakan dalam kondisi operasional. Pengujian dilakukan dengan mesin berjalan dan personel bekerja, sambil memonitor partikel dan mikroba dalam periode tertentu untuk memastikan kestabilan lingkungan di bawah beban nyata.
Tahapan Validasi
Selain tahapan kualifikasi, validasi cleanroom mencakup serangkaian pengujian fisik sesuai standar ISO 14644-3 dan GMP. Pengujian ini meliputi uji integritas filter HEPA (DOP/PAO scan) untuk memastikan tidak ada kebocoran pada media atau seal, penghitungan partikel menggunakan laser particle counter untuk menentukan kelas kebersihan ruangan, serta visualisasi aliran udara (smoke study) guna membuktikan pola aliran sesuai desain dan tidak terjadi turbulensi balik.
Selain itu dilakukan recovery time test untuk mengukur seberapa cepat ruangan kembali ke kondisi bersih setelah terjadi lonjakan partikel, serta pengujian kaskade tekanan ruang untuk memastikan diferensial tekanan stabil dan arah aliran udara tetap terkontrol. Semua hasil ini menjadi bukti objektif bahwa cleanroom siap beroperasi dan memenuhi persyaratan regulasi.
Sebagai penutup, membangun cleanroom harus memastikan setiap elemen mulai dari desain, material, hingga airflow bekerja sesuai standar. Sehingga hasilnya produk terlindungi dari kontaminasi, operasional lebih efisien, dan kualifikasi industri bisa dilewati dengan lebih mudah.
Selain desain, pemilihan vendor yang tepat sangat penting. Vendor berpengalaman akan memastikan material, peralatan, dan sistem pendukung sesuai dengan standar ISO maupun CPOB, mudah dipelihara, dan mendukung proses kualifikasi jangka panjang. Presisi fabrikasi dan kualitas material menjadi faktor utama dalam meminimalkan risiko kontaminasi dan memperpanjang umur fasilitas.
PT Sains Steelindo Prima menyediakan solusi cleanroom berbahan stainless steel, seperti pass box, hermetic door, dan perlengkapan pendukung lainnya yang dirancang untuk mendukung kepatuhan cleanroom terhadap standar yang berlaku.
Informasi produk dapat dilihat melalui tautan di bawah ini.
Sumber dan Referensi
- Permenkes No. 40 Tahun 2022 – Persyaratan Teknis Bangunan RS
https://peraturan.bpk.go.id/Details/245559/permenkes-no-40-tahun-2022 - Permenkes No. 24 Tahun 2016 – Persyaratan Teknis Bangunan & Prasarana RS
https://peraturan.bpk.go.id/Details/139483/permenkes-no-24-tahun-2016 - ISO 14644-1:2015 – Klasifikasi Cleanroom & Partikel Udara
https://www.iso.org/standard/53394.html - ISO 14644-2:2015 – Metode Pengujian dan Pemantauan Cleanroom
https://www.iso.org/standard/53294.html - ISO 14644-3:2019 – Pengujian Fisik dan Validasi Cleanroom
https://www.iso.org/standard/74654.html - EU GMP Annex 1 – Manufacture of Sterile Medicinal Products
https://www.ema.europa.eu/en/quality/gmp/gmp-guidelines - ASME BPE – Bioprocessing Equipment Standards (Stainless Steel Piping)
https://www.asme.org/codes-standards/find-codes-standards/bpe - CDC – Pedoman Pengendalian Infeksi Lingkungan
https://www.cdc.gov/infection-control/hcp/environmental-control/index.html - UNE-EN 12207:2017 – Permeabilitas Udara Pintu & Jendela
https://www.une.org/encuentra-tu-norma/busca-tu-norma/norma?c=N0057864 - EN 16005:2012 – Keselamatan Pintu Otomatis
https://eu.beasensors.com/en/en-16005-safety-standard/ - ASHRAE Handbook – HVAC for Cleanrooms
https://www.ashrae.org/technical-resources/ashrae-handbook




